Pupuk Indonesia

Home Profile Perusahaan GCG Manajemen Risiko

Fri,31Oct2014

Manajemen Risiko

Dengan banyaknya ketidakpastian dan cepatnya perubahan lingkungan usaha, baik internal maupun eksternal, maka akan berdampak kepada makin kompleksnya risiko usaha yang harus dihadapi perusahaan, sehingga penerapan manajemen risiko menjadi kebutuhan mutlak untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kerugian perusahaan.

Untuk dapat mengelola risiko usaha dengan baik, PT Pupuk Indonesia (Persero) telah menerapkan Manajemen Risiko sejak awal tahun 2006 sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan Good Corporate Governance, dengan Direksi PT Pupuk Indonesia (Persero) nomor SK/DIR/184/2005 tanggal 14 Oktober 2005 dan adanya komitmen Direksi mengenai Kebijakan Manajemen Risiko serta dibentuknya Komite Manajemen Risiko di tingkat manajemen dan Tim Key Persons Unit Kerja Penerapan Manajemen Risiko sesuai dengan Surat Keputusan Direksi PT Pupuk Indonesia (Persero) nomor SK/DIR/63/2006 tanggal 20 April 2006.

Gas bumi adalah bahan baku utama industri pupuk. Kontinuitas pasokan gas bumi, harga gas bumi yang terus naik dan harus dibayar dalam USD serta kebijakan mengenai gas bumi yang belum berpihak kepada industri pupuk dan perbedaan harga pupuk yang cukup tinggi antara pupuk untuk sektor pertanian (PSO) dengan sektor kebun, industri dan ekspor, merupakan risiko-risiko yang dihadapi industri pupuk pada umumnya.

Dalam pengelolaan risiko yang berkaitan dengan bahan baku gas bumi, perusahaan telah dan terus melakukan koordinasi dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti BP Migas, Pertamina dan produsen gas lainnya, Pemda Sumsel dan lain-lain. Sedangkan berkaitan dengan risiko perbedaan harga pupuk yang cukup tinggi antara pupuk untuk sektor pertanian (PSO) dengan sektor kebun, industri dan ekspor, perusahaan terus melakukan pembinaan terhadap distributor dan penyalur pupuk serta melakukan pengawasan penyaluran pupuk sektor pertanian bersama-sama dengan instansi terkait.

Selain risiko seperti tersebut diatas, perusahaan juga menghadapi risiko semakin tuanya usia pabrik pupuk Pusri-II, Pusri-III dan Pusri-IV (sudah berusia diatas 30 tahun) serta risiko teknologi pembuatan pupuk yang digunakan oleh 3 pabrik yang sudah tua tersebut adalah teknologi tahun 1970an sehingga kurang efisien dalam penggunaan bahan baku gas bumi. Berkaitan dengan risiko tersebut perusahaan telah merencanakan untuk melakukan revitalisasi terhadap pabrik pupuk yang sudah tua dan tidak efisien dalam menggunaan bahan baku gas bumi tersebut.

Pada tahun 2008 PT Pupuk Indonesia (Persero) telah melakukan 4 kali siklus proses Manajemen Risiko mulai dari Identifikasi Risiko, Pengukuran/Pemetaan Risiko, Pengendalian Risiko dan Pemantauan Risiko. Pengelolaan risiko di PT Pupuk Indonesia (Persero) dilakukan terhadap 12 fungsi kegiatan perusahaan, yaitu Produksi, Pemasaran, Pengadaan, Perkapalan, Pengembangan, Teknologi Informasi, Keuangan, Pengendalian Internal, SDM, Umum, Hukum serta Lingkungan